“SEWA BIOSKOP” DEMI MINGGU PAGI DI VICTORIA PARK

Posted on 12 Juni 2010

13



Kali ini saya belum akan kasih reviu film yang saya tonton pada hari Jum’at (11/6) jam 13.00 WIB ini. Saya akan menceritakan pengalaman saya nonton film tersebut. Sebelum menonton film ini, saya mampir ke beberapa blog film tetangga yang kebetulan sudah menonton Minggu Pagi di Victoria Park. Tanggapan mereka sangat positif dan memberi rating yang cukup tinggi. Pertanda film ini layak untuk diperjuangkan ditonton di bioskop. Tidak hanya di blog tetangga, di Twitter juga banyak sekali pihak yang memuji kualitas film Minggu Pagi di Victoria Park, terutama untuk divisi acting.
Namun selain pujian, juga terdapat keprihatinan akan minimnya kursi yang terisi ketika film ini dtayangkan. Teman-teman Twitter yang tinggal di Surabaya, Medan,Bandung dan Jakarta mengabarkan kalau pada saat mereka menonton Minggu Pagi di Victoria Park jumlah penontonnya tidak mencapai sepuluh orang, bahkan ada yang cerita kalau mereka menonton ditemani hanya 2 penonton lain saja! Menyedihkan. Film yang kualitasnya diakui oleh banyak pihak, kurang mendapatkan atensi yang menggembirakan. Yang saya alami ternyata lebih menyedihkan lagi. Begini ceritanya…
Saya menonton film ini di Studio Theatre (di Singosaren Solo) dan tiba di lokasi jam 12.45 sehabis Jum’atan. Meski dengan tata suara biasa saja dan layar yang tidak begitu besar (HTM Rp. 15.000,-), saya suka datang ke bioskop ini karena jam tayangnya cukup bersahabat dengan saya yang karena situasi dan kondisi, lebih nyaman nonton film di bioskop sehabis Sholat Jum’at. Asyiknya lagi, bioskop ini batas minimal jumlah penontonnya cuma 2 orang. Dan karena sulit menyamakan jdwal dengan teman-teman, seringnya saya nonton sendirian.


Tiba di lokasi, tidak terlihat satu orang pun di depan loket. Bioskop yang satu ini memang tidak seramai Grand 21 yang berada di Solo Grand Mall, namun dari pengalaman saya yang beberapa kali melihat pada hari dan jam yang sama, biasanya paling tidak ada 5 – 10 orang pada saat film diputar, contohnya waktu saya nonton Arisan Brondong, Dendam Pocong Mupeng atau Alangkah Lucunya (Negeri) Ini. Meski terlihat lengang, hal tersebut tidak menyurutkan niat saya untuk nonton Minggu Pagi di Victoria Park. Melangkahlah kaki ini menuju loket.
Saya Cakep (SC) : Minggu Pagi di Victoria Park, Mbak.
Mbak Penjual Tiket (MPT) : Wah…belum ada temennya mas
SC (mulai cemas) : Minimal dua orang kan Mbak?
MPT : Iya Mas.
SC : Ya udah Mbak. Nanti saya balik lagi.

Karena masih ada waktu, saya keluar sebentar untuk sekedar lihat-lihat karena kebetulan bioskop tersebut satu lokasi dengan Matahari Singosaren. 10 menit kemudian saya balik ke depan loket.
SC : Sudah ada temennya belum Mbak?
MPT : Belum Mas. Kayaknya filmnya gak jadi diputar.
SC : Waduh! (membayangkan perjalanan pulang selama 2 jam yang sia-sia)
MPT : Lihat yang ini saja Mas. Baru tayang juga kok (sambil menunjuk Messengers 2)
SC (dalam hati teriak ”kyaaaa….!) : Waduh Mbak, kurang suka sama filmnya. Ya udah. Terima kasih Mbak
Menjauhi loket dengan kecewa namun diiringi senyum MPT.

Saya masih enggan meninggalkan bisokop tersebut. Kedepannya kayaknya bakal tidak ada waktu nonton lagi dan sayang perjalanan yang saya tempuh demi nonton Minggu Pagi di Victoria Park di bioskop. Sekedar informasi, untuk sampai ke bioskop tersebut saya butuh waktu sekitar hampir 2 jam. Saya tidak mau pulang dengan tangan hampa dong dan memutuskan kembali ke loket.
SC (dengan tekad membara) : Mbak, minimal penontonnya 2 orang kan?
MPT : Iya Mas.
SC (dengan penuh pengharapan) : Kalau misalnya saya beli 2 tiket, filmnya bakal diputar tidak?
MPT (bingung dan ragu-ragu) : Mmmm….sebentar saya tanyakan dulu ya Mas.
Mbaknya berlalu sejenak menemui Pak Manajer yang saya tahu orangnya tinggi kurus kering. Tak berapa lama kemudian…
MPT : Ya Mas. Film bisa kita putar.


YESS!!! Meski terbersit rasa miris, timbul rasa lega dan senang luar biasa karena pada akhirnya bisa menyaksikan film Minggu Pagi di Victoria Park. Dengan modal Rp. 30.000,- saya seakan menyewa satu gedung untuk memutar film bagus khusus untuk saya sendiri. Yang paling menggembirakan, pengeluaran tersebut terbayar dengan kepuasan saya menyaksikan filmnya, terutama dengan parade akting memikat dari para pemain perempuan. Tidak hanya Titi Sjuman dan Lola Amaria, para pemain pendukung lainnya (Imelda Soraya , Permatasari Harahap dll) juga tampil memikat. Penampilan mereka mampu mengalihkan saya dari beberapa detail cerita yang kurang tergarap lebih dalam, terutama 2 karakter cowok yang perannya kurang mendapatkan landasan yang kuat. IMO
Saya berharap yang saya alami hanya terjadi pada saya dan berdoa tidak akan terjadi lagi. Mari tonton film Indonesia yang bermutu. Jangan hanya tonton film setan dan komedi seks saja dong. Kalau film Indonesia terlalu dijejali dengan setan dan kemesuman, penonton bisa jenuh dan menjauhi film Indonesia. Takutnya apa yang dibilang Deddy Mizwar pada sebuah tabloid kalau pada tahun 2012 film Indonesia bisa terkapar lagi bakal benar-benar terjadi. Untuk tahun ini saja, sampai akhir Mei, dari puluhan judul yang telah dirilis, katanya hanya film 18+ yang perolehannya menyentuh angka 500ribu penonton, disusul Menculik Miyabi yang sebenarnya tidk mampu memenuhi ekspektasi Produsernya. Mengenaskan. Mungkin penonton benar-benar sudah jenuh.


Saya sebagai penikmat film, sekali lagi hanya bisa mengajak, mari kita tonton film Indonesia yang bermutu. Kalau film-film bagus ditonton banyak penonton, tentu para pekerja film jadi lebih semangat bikin film yang lebih baik. Saya sih maklum kenapa penonton Indonesia lebih suka dengan film-film ringan yang kadang hanya memberikan hiburan sesaat. Dengan kehidupan yang makin keras, mereka masuk ke bioskop itu inginnya sejenak melepaskan kepenatan, bukannya dibawa ke alam serius yang makin menyesakkan rasa. Tapi percayalah, Minggu Pagi di Victoria Park bukanlah tontonan yang depresif lho. Akhir kisah ini memberikan semacam optimisme yang menentramkan. Buruan tonton filmnya sebelum keburu turun!!!

Posted in: CURHAT