MY TOP 20 MOVIES OF THE DECADE

Posted on 8 Juni 2010

15



Setelah tertunda beberapa kali, akhirnya daftar 20 film terbaik rilisan 2000 s/d 2009 versi Gilasinema muncul juga. Ada beberapa judul yang sebelumnya tidak muncul di daftar film terbaik per tahun. Hal ini disebabkan film-film tersebut baru sempat saya tonton setelah daftar dibuat. Terpilihnya 3 film karya Coen Brothers adalah sebuah ketidaksengajaan, karena saya tidak pernah begitu fanatic terhadap sutradara tertentu. Apa landasan saya dalam memilih film-film dibawah ini serta urutan nomer 21 s/d 100, bisa dibaca di sini


20.ELEPHANT
Sebuah rekonstruksi tragedi yang yang ciamik. Hand held camera yang selalu setia membuntuti para pemeran, efektif mengikat penonton untuk menjadi saksi mata sebuah peristiwa tragis dan membuat saya kagum karena pastinya dibutuhkan persiapan sangat matang dalam pembuatannya. Dialog dan ilustrasi musik yang minim efektif menghadirkan aura mencekam dan penonton dibuat was-was akan hadirnya monster yang pada akhirnya melakukan aksi pembantaian membabi buta nan berdarah-darah.


19. HAPPY – GO – LUCKY
Menyaksikan Happy-Go-Lucky, terasa sangat menyegarkan, apalagi di tengah gempuran film-film yang beraura negative. Setelah menyaksikan film ini rasanya timbul semacam perasaan optimis, bahwa hidup akan menuju kearah yang lebih baik kalau kita menyikapinya dengan positif. Film ini mengajak penonton untuk melihat Poppy yang diperankan dengan sangat memikat oleh Sally Hawkins, sebagai karakter yang dihadapkan dengan berbagai karakter yang bertolak belakang dengannya. Konfrontasi antar karakter inilah yang menuntun cerita, hingga mencapai puncaknya ketika Scott mengalami ledakan emosional akibat tidak tahan dengan karakter Poppy. Mike Leigh sangat berhasil menampilkan sebuah konfrontasi karakter tadi hingga menjadi sebuah tontonan yang bernas, lincah, menghibur serta menyentil.


18. THE DIVING BELL AND THE BUTTERFLY
Dalam film ini kamera berperan sebagai actor yang berinteraksi dengan tokoh – tokoh yang ada dengan Bauby (Mathieu Amalric). Sebuah pendekatan yang menakjubkan. Untungnya Julian Schnabel tidak menyajikan pendekatan tersebut sepanjang durasi film. Sutradara tahu benar kapan menempatkan kamera sebagai actor dan kapan kamera berperan sebagai kamera, sehingga film tidak terasa melelahkan dan membosankan. Lewat pendekatan ini kita diajak untuk menyelami apa yang dilihat, dirasakan dan imajinasi dari Bauby. Film ini juga mempunyai pesan yang sangat bagus. Malu rasanya melihat semangat yang dimilik oleh Bauby, meskipun untuk menuju ke tahap itu butuh perjuangan yang kadang membuat putus asa dan ingin mati saja. Beruntung Bauby dikelilingi oleh orang – orang yang menyayanginya. Meski pada akhirnya Bauby meninggal dunia, namun dia meninggalkan sesuatu yang bernilai bagi kehidupan orang lain.


17.THE WIND THAT SHAKES THE BARLEY
Ken Loach dengan pendekatannya yang sederhana (seperti biasa) berhasil dengan baik menggambarkan bagaimana perang merubah karakter seseorang yang awalnya berencana menyelamatkan kehidupan menjadi sosok yang terlalu idealis dan dingin dalam memperjuangkan apa yang diyakininya benar. Kekerasan dan kebencian senantiasa melahirkan monster berbahaya. Cillian Murphy mampu mempresentasikan karakter ini dengan bagus sekali. Adegan hukuman tembak di penghujung kisah sungguh periiiiih.


16.THE BARBARIAN INVASIONS
Entah mengapa Gilasinema sangat menyukai film ini dan telah menontonnya sekitar 3X. Ada semacam kehangatan di dalam film ini. Meski awalnya kita diperlihatkan gesekan antar karakter karena perbedaan pandangan dan juga lahir di era yang saling berbeda, namun pada akhirnya karakter-karakter yang dihadirkan dapat saling menerima hingga terjalin interaksi yang manis dan hangat. Humor-humor dan perilaku gila namun juga kritis membuat film ini makin enak dinikmati, meski untuk otak saya yang cekak ini naskahnya terkesan terlalu cerdas dengan dimasukkannya beberapa referensi seni dan teori yang masih asing


15. CHILDREN OF MEN
Bagi saya, film ini merupakan sebuah kisah jahilliyah di era modern. Era dimana manusia tidak dihargai sebagaimana mestinya. Dan di tengah kekacauan selalu menghadirkan nabi baru. Ditangan Alfonso Cuarón, kekacauan tersebut disajikan dengan indah dalam tensi yang tinggi. Sebuah film yang kaya referensi hingga bisa menjadi bahan diskusi yang amat menarik. Menonton Children of Men adalah sebuah pengalaman sinematik yang memuaskan.


15.REQUIEM FOR A DREAM
Inilah film tentang mimpi yang disajikan dengan sangat brutal hingga terasa depresif karena tidak menyisakan ruang bagi penonton untuk bernapas. Film ini dipenuhi orang yang berusaha meraih mimpi secara instant hingga membuat mereka hancur lebur. Mengenaskan! Visualisasinya terasa mengesankan sekaligus mengejutkan. Barisan cast-nya semua bermain prima, terutama Ellen Burstyn.


14.ETERNAL SUNSHINE OF THE SPOTLESS MIND
Entah sudah berapa banyak judul yang mengangkat persoalan cinta, namun setiap saat masih saja muncul kisah cinta yang dituturkan dengan cara berbeda hingga mampu meninggalkan kesan mendalam. Eternal Sunshine of the Spotless Mind sungguh sebuah kisah cinta yang cerdas dan orisinil, meski tema soal memori cinta telah banyak diangkat sebelumnya. Itulah bukti jeniusnya Charlie Kauffman. Selain emosi kita diaduk-aduk sedemikian rupa, kita juga diajak memasuki pengalaman visual yang imajinatif, namun tidak sekedar gaya-gayaan.


13. 4 MONTHS, 3 WEEKS AND 2 DAYS
Menyaksikan film ini sungguh sebuah pengalaman yang menyenangkan sekaligus tidak menyenangkan. Menyenangkan karena film ini benar – benar sebuah film yang bagus dari semua segi, mulai dari cerita, penyutradaraan, acting pemain sampai dengan sinematografinya. Di sisi lain film ini menimbulkan efek yang tidak menyenangkan bahkan cenderung mengerikan dengan apa yang disajikan. Saya sampai sesak nafas ketika pertama kali menyaksikannya. Benar – benar menampilkan horor dalam arti yang sebenarnya. Apa yang dihadirkan di layar begitu menekan perasaan dan pikiran. Cristian Mungiu tahu benar bagaimana menghadirkan suasana ngeri sekaligus menyesakkan. Disamping banyaknya penggunaan ruang-ruang sempit dan cahaya minimalis ( sekaligus realis ), penggunaan efek suara juga mempertajam suasana menyesakkan tadi. Belum lagi ketika proses aborsi telah dimulai.
Film ini juga makin kelam berkat tidak adanya iringan musik dalam film ini, kecuali musik di acara perkawinan. Sutradara lebih mengandalkan suara latar semacam langkah kaki, suara air keran atau suara orang bercakap – cakap dalam membangun suasana yang depresif. Bahkan, suara sobekan kertas sekalipun mampu secara efektif membangun suasana miris. Hebatnya, walau menggunakan pendekatan yang minimalis sekaligus kelam, sutradara mampu menghadirkan tontonan yang mampu membuat penonton bertahan untuk mengikuti sampai akhir cerita. Kita dibuat penasaran apa yang akan terjadi pada nasib kedua gadis dalam film ini.


12. THE LIVES OF OTHERS
Film yang secara baik sekali menerjemahkan kalimat bijak “Tak kenal maka tak sayang”. Andai manusia mau memfungsikan telinganya sebanyak memfungsikan mulut, tentu kekacauan bisa diminimalisir. Menyaksikan film ini ibarat menyaksikan Avatar di era dua Jerman. Saya sukaaaaaaaaa sekali dengan endingnya. Subhanallah….itulah wujud kebahagiaan. Jangan lupakan acting memikat dari Ulrich Mühe. Menarik mengamati perkembangan dari karakter Hauptmann ini yang dimainkan secara gemilang olehnya. Dia berhasil mengubah ekspresi dinginnya di awal film menjadi lebih hidup di akhir film karena kebaikan yang telah dia buat.


11. NO COUNTRY FOR OLD MEN
Film No Country for Old Men sebenarnya tidak berbeda jauh dari karya Coen Bersaudara sebelumnya semacam, Fargo, The Ladykillers, The Big Lebowsky atau O Brother, Where Art Thou. Yang membedakan adalah, bisa dibilang No Country for Old Men merupakan karya yang paling berdarah dan paling keras dari mereka. Namun seperti film – film sebelumnya, film ini tetap menghadirkan sindiran – sindiran terhadap sisi kelam manusia dan kali ini sindiran itu disampaikan dengan bungkus kekerasan.
Meskipun di layar kita disuguhi adegan kekerasan secara simultan, sebenarnya Coen Bersaudara mencoba untuk menggugat kekerasan itu sendiri. Terkesan ironis memang, mengingat penggambaran eksekusi beberapa tokohnya. Film ini mencoba menyoroti berbagai kekerasan yang terjadi dewasa ini, yang kadang hadir demi alasan yang absurd. Betapa manusia sudah dibutakan oleh hal – hal yang bersifat materi. Betapa nilai – nilai lama (kebijakan dan kebajikan) tidak lagi mempunyai tempat di dunia yang makin keras ini. Adegan dimana Chigurh memberi uang kepada seorang anak remaja rasa – rasanya menjadi salah satu adegan terpenting dan kuat dalam film ini.


10.WALL- E
Tidak banyak film yang mampu membuat saya menyunggingkan senyum hampir di sepanjang durasi. Wall – E merupakan salah satu dari sedikit film yang berhasil membuat saya terus menyunggingkan senyum. Kisah para mesin di film ini hebatnya jauuuuh lebih humanis dibandingkan film-film dengan pemeran manusia asli. Naskahnya sungguh dahsyat. Pixar kembali berhasil mengawinkan teknologi dengan kedalaman cerita yang mengesankan, meski minim dialog. Sebuah kisah cinta yang mempesona yang akan tetap mantap disantap sepanjang masa. Cinta pada bumi, cinta Wall – E dan Eve.


8/9. O BROTHER, WHERE ART THOU? & A SERIOUS MAN
Meski mengangkat dua agama yang berbeda, saya menangkap satu kesamaan dari dua film karya Duo Coen tersebut. Keduanya mengulik soal kepercayaan terhadap Tuhan. Pencarian akan keyakinan. Kedua film tersebut bermodalkan naskah yang cerdas, kritis, lucu namun juga terasa pahit. Dan seperti kebanyakan film Coen Brothers, dua film ini juga menyinggung soal moralitas yang disajikan dengan nyinyir dan mengusik hati.


7.GOSFORD PARK
Untuk urusan film dengan ensamble cast yang melimpah, Robert Altman merupakan salah satu jagonya. Dengan ruang terbatas dan banyak pemain, Robert Altman berhasil membuat Gosford Park menjadi sebuah drama kemanusiaan yang mengesankan. Intrik berbalut misteri sanggup membuat penonton untuk bertahan menyimak sampai akhir cerita yang digulirkan. Isu stratifikasi social dan kemunafikan manusia dihembuskan dengan begitu tajam sepanjang durasi lewat bahasa gambar dan juga bahasa tubuh para pemerannya. Rasanya film ini bagus ditonton bagi mereka yang tertarik mempelajari soal tingkatan sosial (Sosiologi lagi hehehehe…)


6. THE FALL
Tidak banyak film yang mampu menghadirkan hiburan yang tidak menyakiti logika, dikemas dengan kemasan visual yang cantik sekaligus “berisi” serta memberikan semacam pencerahan tanpa terkesan menggurui. The Fall termasuk sedikit dari sekian banyak film yang mampu memuaskan semua keinginan tadi. Film ini ringan menghibur, meski mempunyai muatan yang filosofis dan dibalut dengan sinematografi yang mempesona, serta mampu memancing hasrat untuk mengupas isinya secara lebih dalam.


5. SYNDROMES AND A CENTURY
Syndromes and A Century bagi saya merupakan sebuah sajian komparasi yang tajam, dan dituturkan dengan amat indah. Sebagai seorang anak desa yang pernah mencicipi hidup di kota (yang tidak terlalu besar) saya bisa dengan mudah masuk ke dalam Syndromes and A Century. Apalagi ketika kuliah saya mendapatkan (sedikit) ilmu seputar Sosiologi Perkotaan maupun Sosiologi Pedesaan yang sangat membantu saya dalam menerima film ini sebagai hasil dari memori dan pengamatan.


4.DOGVILLE
Banyak yang menilai film ini sangat anti Amerika, namun bagi saya yang orang desa, kisah yang dihadirkan dalam Dogville jamak terjadi diberbagai tempat. Meski sangat eksperimental, Dogville secara akurat menelanjangi masyarakat yang diselimuti kemunafikan meski mempunyai control social yang amat ketat. Gus van Sant memang liar, namun dalam keliarannya dia mampu menyajikan tontonan yang kuat secara sosiologis. Dan lewat film ini Nicole Kidman menunjukkan kapasitasnya sebagai seorang aktris. Adegan dia di paksa melakukan hubungan badan ungguh menyedihkan.


3.SPIRITED AWAY
Rasanya tidak ada yang memungkiri kualitas dari film ini. Saya sangat terkesan dengan bagaimana Sang Kreator menghadirkan begitu buuuaaanyak pesan, baik soal lingkungan maupun budi pekerti, dan juga sindiran akan ketamakan manusia di tengah gempuran visual yang luar biasa memikat. TOP!TOP!TOP! Dan untuk urusan animasi dengan tokoh utama perempuan, sekali lagi Studio Ghibli patut diacungi jempol. Tidak seperti Pixar yang belum berani melakukan hal serupa.


2. THERE WILL BE BLOOD
Film There Will Be Blood menjadi salah satu film paling actual di di decade terakhir. Berbagai konflik yang terjadi di dunia, banyak yang bermuara pada persoalan minyak. Lewat film yang diangkat dari novel OIL! karya Upton Sinclair ini kita diajak betapa berpengaruhnya minyak terhadap kehidupan manusia, terutama dalam hidup tokoh utama dari film ini, Daniel Plainview (Daniel Day-Lewis). Dari nobody yang tidak punya apa-apa, berkat kerja keras yang tiada henti serta otak cerdasnya menjadi somebody yang menguasai sumber daya, baik sumber daya alam, modal maupun sumber daya manusia. There Will Be Blood menunjukkan kepada kita contoh betapa minyak mampu merubah manusia menjadi sosok iblis yang kejam serta serakah hingga mengingkari Tuhan. Ketika hati manusia sudah tercemar, maka akan sulit untuk dibersihkan, bahkan oleh air suci sekalipun.
Kekuatan film ini selain terletak pada kekuatan acting dari Daniel Day-Lewis (paling suka dengan ekspresi dia ketika dibaptis) , juga ada pada sinematografinya yang kuat. Sutradara Paul Thomas Anderson, memang termasuk jago dalam mengolah adegan dengan menghadirkan gambar – gambar sarat makna. Dalam There Will Be Blood dia banyak menampilkan gambar – gambar yang selain indah sekaligus menarik minat penonton untuk menganalisa gambar yang dihadirkan.


1. CACHE ( HIDDEN )
Wow! Wow! Wow! Itulah reaksi Gilasinema setelah menyaksikan Caché untuk kali kedua. Seperti judulnya, film yang terkesan biasa secara visual ini menyimpan sebuah cerita yang dahsyat dan tajam, serta beberapa adegan yang mengejutkan. Film ini menghadirkan sindiran sekaligus olok-olok terhadap para manusia yang tidak dibekali kematangan emosional meski secara intelektualitas sudah sangat maju. Pendidikan sebatas aksesoris. Bagaimana kebanggaan dan prasangka yang tak terkendali membuat manusia menjadi berkepala batu, hingga susah untuk disadarkan. Bahkan dengan kekejaman yang sangat frontal di depan mata sekalipun tidak mampu meruntuhkan ego manusia. Konflik masa kecil kalau tidak disikapi secara bijaksana nyatanya mampu menjelma menjadi sebuah konflik besar yang bisa merusak peradaban. Bagai api dalam sekam. Menyaksikan film ini saya jadi membayangkan, mungkinkah berbagai konflik besar di dunia ini diawali dari sebuah permusuhan dua anak kecil? Setelah menyaksikan film ini kita akan melihat betapa konyolnya kemarahan, dendam, perselisihan, perang atau apapun itu wujudnya yang sejenis. Film ini selain menyoroti kepongahan orang-orang berpendidikan juga menyoroti bagaimana media berperan dalam konflik dengan menyebarkan informasi yang tidak utuh dan apa adanya.

Posted in: AWARD/LIST